HISTORIOGRAFI RUNTUHNYA MAJAPAHIT

HISTORIOGRAFI RUNTUHNYA MAJAPAHIT


Sumber utama runtuhnya majapahit adalah serat pararaton, pada bagian akhir serat ini tertulis bahwa Raja Suraprabhawa mengusir 4 orang keponakannya karena ingin trahnya yang berkuasa, salah satunya yang diusir pernah menjabat sebagai Bhre Kertabhumi. Bhre Kerthabumi bersaudara akhirnya ke pacet, mendapat simpati dan menyusun kekuatan bersama rakyat, hal itu tertulispada sumber otentik kedua yaitu prasasti petak yang tujuannya memberi hadian masyarakat di sekitar pacet karena telah membantu saat Bhre Kertabhumi diusir dari istana. nama asli Bhre Kertabhumi menurut prasasti tersebut adalah Girindrawardhana Dyah Ranawijaya. sumber otentik ketiga adalah prasasti Jiyu yang menyebutkan bahwa Girindrawardhana Dyah Ranawijaya menetapkan diri sebagai penguasa Majapahit dengan nama Wilwatikta Jenggala Kadiri. ini menunjukkan semangat bahwa Girindrawardhana berusaha membangkitkan majapahit walau sudah dalam titik lemah. Rupanya Girindrawardhana juga memindah ibukota majapahit di Trowulan, karena adat bahwa kota yang pernah dikuasai musuh itu sial, maka wilayah Daha dijadikan Ibukota Majapahit yang baru. 

Menurut Catatan Tome Pires, di Daha ini Girindrawardhana bergelar Bhatara Wijaya, kalau disingkat adalah Bhra Wijaya atau Brawijaya. ini seperti adat penyingkatan misalnya Raja Hayam Wuruk yang bergelar Bhatara Hyang Wekasing Sukha juga disingkat menjadi Bhra Hyang Wekasing Sukha. adat untuk penguasa daerah namanya Bhatara ing, misalnya Bhatara ing kahuripan disingkat Bhre kahuripan. jadi Bhre Kertabhumi adalah gelar dari Girindrawardhana Dyah Ranawijaya saat menjadi penguasa daerah di Kertabhumi. saat sudah jadi raja Majapahit gelarnya adalah Brawijaya. Melanjutkan catatan Tome Pires, Brawijaya yang lemah kemudian diserang oleh Demak, disebutkan terjadi beberapa kali peperangan dan disebutkan pula jumlah pasukan majapahit pada saat itu sekitar 10.000 orang. Detail penyerangan bisa dibaca dari serat Darmagandul yang menyatakan bahwa karena perang terus maka jumlah pasukan majapahit tinggal sedikit, yaitu 3.000 pasukan. di saat tinggal sedikit inilah Demak kemudian menyerang majapahit di daha. dituliskan saat penyerangan tersebut para panglima dipimpin oleh para Sunan, hal ini bisa diindikasikan sebagai upaya menggalang kekuatan, Demak yang masih berusia muda belum banyak prajuritnya, tapi sampai bisa mengumpulkan banyak karena mempersenjatai buruh pelabuhan dan petani, sehingga terkumpullah 30.000 pasukan, menyerang majapahit yang tinggal 3.000 pasukan. dituliskan pula dalam serat tersebut bahwa Raja Brawijaya diarahkan agar melarikan diri melihat kekuatan yang tidak seimbang ini. 

Majapahit tidak mau mengorbankan rakyat untuk berperang, rakyat disuruhnya pindah ke tempat lain seperti Tengger dan Bali.eksodus ini bersumber dari cerita rakyat (folklore) yang masih dikisahkan turun temurun baik di Tengger maupun Bali. pada akhirnya 30.000 pasukan demak dipimin para Sunan itu menyerang majapahit yang berkekuatan 3.000 orang, dan tercatat dalam serat darma Gandul pada saat penyerangan tersebut Sunan Ngundung tewas. Majapahit kalah dan akhirnya hancur dan habis. dalam berbagai serat dituliskan bahwa Sultan Trenggana yang menjadi salah satu pimpinan pasukan demak mengejar2 sisa pasukan majapahit yang lari ke Gunung Penanggungan. Kembali ke Serat Darma Gandul, dikisahkan bahwa Raja Brawijaya melarikan diri ke Banyuwangi, dari folklore didapatkan kisah bahwa setelah di Banyuwangi kemudian ke Pantai Ngobaran dan Moksha di pantai tersebut. dalam serat darmagandul dikisahkan akhirnya rakyat harus tunduk di bawah kekuasaan Demak, catatan Antonio Piegafetta menyebutkan bahwa tahun 1521 majapahit hanya menjadi sebuah nama Desa sedangkan kekuasaan pulau Jawa ada pada kerajaan demak yang dipimpin Pati Unus
https://www.facebook.com/groups/abiyasanusantara/permalink/2692797714098596/
Labels: BUDAYA

Thanks for reading HISTORIOGRAFI RUNTUHNYA MAJAPAHIT. Please share...!

0 Comment for "HISTORIOGRAFI RUNTUHNYA MAJAPAHIT"

APABILA BERMANFAAT BISA DI BOOKMARK DAN SHARE

Back To Top