INDONESIA SEPOTONG SURGA DI DUNIA

Indonesia: Sepotong Sorga di Dunia atau Pusat Dunia? - 5

Selama ber-tahun2, Borobudur diyakini sebagai tempat ibadah Budhisme yg dibangun oleh dinasti Syailendra di abad ke-8. Tapi bentuk Borobudur secara keseluruhan dan pemahaman akan lokasinya menunjukkan kalau Borobudur bukan memulai keberadaannya sebagai tempat ibadah Budhisme dan dinasti Syailendra bukan membangun tapi mengubahnya menjadi Borobudur sebagaimana yg dikenal sekarang.

Dengan keberadaan begitu banyak patung Budha dan stupa, secara keseluruhan bentuk Borobudur sangat berbeda dg bentuk tempat ibadah Budhisme mana pun. Hal itu dikarenakan tanpa melihat patung Budha dan stupanya, bentuk Borobudur merupakan bentuk Mandala atau Chakra.

Uniknya, pengetahuan bahwa bentuk keseluruhan Borobudur merupakan bentuk Mandala bukan didapat dari Hindu India, tapi dari AJARAN LELUHUR JAWA. Hindu India bahkan tidak tahu apa2 tentang Borobudur. Dari sini seharusnya sudah mulai terlihat bahwa Hindu sebenarnya berawal dari Jawa, sekali pun mencapai puncak perkembangannya di India (dalam artian hingga dikenali sebagai agama khas India).

Sejarah Budhisme, di sisi lain, dg jelas tercatat dimulai dari India. Sidharta Gautama, peletak dasar Budhisme, merupakan pangeran sebuah kerajaan India.

Kesalahan dimulai saat Budhisme dibawa kembali ke Indonesia. Sebagaimana spt penjelasan dalam tulisan sebelumnya, arah aliran yang seharusnya adalah dari Indonesia ke India, dari India ke China, dari China kembali ke Indonesia.

Sementara siapa peletak dasar Budhisme tercatat jelas, siapa yang membawa Budhisme ke China juga tercatat jelas, tapi siapa yang membawa Budhisme ke Indonesia kuno tidak pernah diketahui dg jelas.

Di sisi lain, sementara kedatangan Tat Mo Cosu ke China membawa Budhisme bukan saja menjadikan Budhisme bagian tak terpisahkan dari China - bahkan hampir menenggelamkan Taoisme, ajaran asli leluhur China - tapi juga mengembangkan seni bela diri China. Sedang Budhisme yg dibawa ke Indonesia dari India, sekali pun sempat menjadi agama kerajaan, tidak pernah mencapai kejayaan apalagi bertahan sebagaimana Budhisme di China.

Kalau mengikuti arah aliran yg benar - dari India ke China - hasilnya luar biasa. Kalau melawan arah aliran yang benar - dari India ke Indonesia - keberhasilannya hanya sesaat dan berakhir dg keruntuhan.

Kembali ke Borobudur. Ambillah posisi sebagai raja Sriwijaya di abad ke-8. Apa yang kita pikirkan saat tahu akan keberadaan sebuah bangunan megah di tengah pulau Jawa yang terkait dg ajaran kuno (pra-Budhisme) dan lebih megah dari semua bangunan Budhisme di Indonesia pada waktu itu?

Tentu saja tidak bisa dibiarkan. Bagaimana mungkin ajaran yang salah, yg sudah ditinggalkan, bisa mewariskan peninggalan yg lebih megah dari ajaran yg benar? Bangunan kuno itu HARUS DIUBAH menjadi bangunan Budhisme, ajaran yang benar hingga dijadikan agama resmi kerajaan pada waktu itu.

=== Menariknya, pemikiran yg sama sedang kita lihat berlangsung sekarang ini juga di tanah Jawa, hanya saja bukan dari Budhisme ===

Jadi raja memerintahkan untuk mengubah bangunan tersebut menjadi tempat ibadah Budhisme. Dari fakta bahwa bentuk dasar Borobudur masih tetap merupakan Mandala menunjukkan kalau bangunan aslinya tidak dirobohkan, hanya rancangannya diubah dengan memahat puluhan patung Budha dan stupa.

Apakah ini suatu kesalahan?

Tidak juga. Kesalahan bukan pada perubahan bentuk Borobudur, karena pada intinya bentuknya tetap sama, Mandala. Kesalahan pada proses perubahannya. Bangunan asli Borobudur terletak di tengah danau. Untuk melaksanakan perubahannya, danau terpaksa dikeringkan (dengan merobohkan salah satu dinding danau dan membiarkan airnya mengalir keluar).

Kesalahan berikutnya adalah keputusan untuk menjadikan Borobudur tempat ibadah Budhisme agar orang melupakan keterkaitannya dg ajaran kuno. Untuk itu Borobodur tetap dibiarkan kering.

Ini merupakan kesalahan karena bentuk Mandala dari Borobudur bukan tanpa makna. Bentuk Mandala dipilih karena lokasi Borobudur merupakan titik Mandala Bumi.

Sebagaimana penjelasan dlm tulisan sebelumnya, Mandala atau Chakra merupakan portal energi. Di dalam tubuh manusia, apabila Mandala/Chakra mengalami gangguan, akan terjadi penyumbatan energi yg terlihat dalam bentuk kelemahan, atau penyakit.
Bumi juga memiliki Mandala/Chakra tersendiri. Tidak seperti Mandala/Chakra Mayor tubuh, yg berjumlah 7, Mandala/Chakra Mayor Bumi berdasarkan elemen/unsur utama yaitu: Air, Kayu, Api, Tanah, dan Logam.

Baca Juga

Menurut Man Tak Chia dalam bukunya The Inner Structure of Tai Chi, dalam ajaran Taoisme, kelima elemen/unsur tersebut bukan acak. Kelimanya melambangkan metamorfosa energi. Melambangkan PROSES TERBENTUKNYA ALAM SEMESTA. Dan elemen paling awal, elemen yg menjadi dasar dari semua elemen lainnya, adalah Air.

Bahwa Borobudur awalnya berada di tengah danau menunjukkan satu hal: BOROBUDUR ADALAH MANDALA AIR. Titik awal dari semua perkembangan. Atau, dalam hal ini, TITIK AWAL DARI PERADABAN.

Ini merupakan bukti terutama bahwa Hindu bukan berasal dari India. Karena tidak mungkin Hindu muncul di tanah yang jauh dari tanah di mana Mandala Air, titik awal dari semua perkembangan, berada.

Dan ketika Mandala Air dirusak dan dibiarkan rusak, penyumbatan energi terjadi. Itu sebabnya Borobudur merupakan satu2nya situs kuno yg mengalami kerusakan DARI DALAM KE LUAR. Semua situs kuno lain mengalami kerusakan dari luar ke dalam, terutama akibat cuaca. Borobudur rusak dari dalam ke luar karena penyumbatan energi Bumi.

Dan sejak kerusakan Mandala Air, kejayaan Nusantara pun mengalami penurunan.
Labels: BUDAYA, SEJARAH

Thanks for reading INDONESIA SEPOTONG SURGA DI DUNIA . Please share...!

0 Comment for "INDONESIA SEPOTONG SURGA DI DUNIA "

APABILA BERMANFAAT BISA DI BOOKMARK DAN SHARE

Back To Top